AI

Nvidia telah Menyetujui Akuisisi Hugging Face US$12,9 Miliar

Nvidia dikabarkan sepakat mengakuisisi Hugging Face senilai US$12,9 miliar. Ini berpotensi memperkuat posisi Nvidia di AI terbuka dan cloud.

Nvidia Dikabarkan Menyetujui Akuisisi Hugging Face US$12,9 Miliar

Sumber gambar: TechCrunch (US)

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh redaksi. Sumber: referensi asli.

> Nvidia dikabarkan menyetujui akuisisi Hugging Face senilai US$12,9 miliar. Namun, kesepakatan itu belum ditandatangani dan masih bisa berubah.

Nvidia, perusahaan chip dan infrastruktur AI terkemuka, dikabarkan telah menyepakati rencana akuisisi Hugging Face, platform distribusi model kecerdasan buatan open-source, dengan nilai US$12,9 miliar. Laporan itu pertama diungkap The Information pada Rabu malam waktu Amerika Serikat, mengutip sumber yang dekat dengan proses negosiasi.

Status kesepakatan belum final. Business Insider melaporkan pembicaraan dengan valuasi lebih dari US$13 miliar itu belum menghasilkan perjanjian yang ditandatangani dan masih mungkin batal. Nvidia dan Hugging Face juga belum menanggapi permintaan konfirmasi dari TechCrunch.

Mengapa Nvidia Membidik Hugging Face?

Akuisisi ini dinilai sebagai langkah strategis Nvidia untuk melindungi dominasinya di pasar chip AI. Sejumlah laboratorium AI tertutup seperti OpenAI, Google, Amazon, dan Anthropic mulai membangun chip AI sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada Nvidia.

Dengan memiliki Hugging Face, Nvidia dapat memperkuat ekosistem model AI open-source. Model open-source adalah model yang kode sumber dan bobot parameternya tersedia untuk publik, sehingga pengembang dapat mengunduh, memodifikasi, dan menjalankannya tanpa bergantung pada penyedia tertutup. Semakin banyak pengembang memakai model open-source, semakin besar permintaan terhadap perangkat keras Nvidia untuk melatih dan menjalankan model tersebut.

Langkah ini sejalan dengan investasi besar Nvidia sebelumnya. Perusahaan yang berbasis di Santa Clara, California, itu telah mengucurkan puluhan miliar dolar untuk membangun model AI open-source miliknya.

CEO Hugging Face Clem Delangue juga menunjukkan keselarasan dengan dorongan open-source Nvidia. Dalam wawancara CBS “Face the Nation” awal bulan ini, Delangue mengatakan Hugging Face memakai versi modifikasi Nvidia dari model open-source asal Tiongkok untuk bertahan dari serangan siber. Ia juga merujuk pada surat terbaru yang ditandatangani CEO Nvidia Jensen Huang dan 24 perusahaan, termasuk Hugging Face, yang mendesak pemerintah AS mendukung model terbuka alih-alih membatasinya.

Dalam wawancara terpisah dengan CNBC akhir Juli, Delangue menyampaikan poin seraya memperingatkan bahwa Tiongkok “jelas mendominasi” AI open-source. Perdebatan soal pembatasan model open-weight—model AI dengan bobot yang dirilis ke publik—telah berlangsung berbulan-bulan di Washington, menyusul munculnya model Tiongkok seperti Kimi K3 dari Moonshot AI yang menyamai performa model AS terkemuka dengan biaya operasi lebih rendah. Beberapa kritikus, termasuk penasihat Gedung Putih David Sacks, menilai kekhawatiran itu justru digelembungkan oleh “duopoli” Anthropic dan OpenAI.

Hugging Face: Pusat Model Open-Source yang Valuasinya Melonjak

Hugging Face didirikan pada 2016 dan kini menjadi salah satu tempat paling populer bagi pengembang untuk berbagi serta mengunduh model AI open-source. Platform ini juga menyediakan layanan untuk menjalankan model AI menggunakan daya komputasi sewaan.

Nilai akuisisi US$12,9 miliar mencerminkan lompatan valuasi yang signifikan. Pada 2023, Hugging Face mengumpulkan pendanaan US$235 juta dengan valuasi US$4,5 miliar. Putaran itu dipimpin Salesforce Ventures dan diikuti Alphabet’s GV, IBM Ventures, serta Nvidia sendiri.

Perusahaan ini masih tergolong kecil dari sisi pendapatan. The Information melaporkan Hugging Face menghasilkan sekitar US$150 juta per tahun, naik dari sekitar US$100 juta dua bulan sebelumnya. CEO Hugging Face Clem Delangue menyebut pertumbuhan itu membuat perusahaan “mendekati profitabilitas” dalam wawancara dengan TechCrunch bulan lalu.

Kembali ke Bisnis Cloud?

Akuisisi ini juga membuka peluang Nvidia untuk kembali ke pasar komputasi awan. Nvidia sebelumnya mengurangi skala bisnis cloud miliknya, DGX Cloud, sekitar setahun lalu. Dengan menguasai Hugging Face yang sudah membantu pengembang menjalankan model AI memakai komputasi sewaan, Nvidia dapat masuk kembali ke pasar itu tanpa membangun dari nol.

Ada pula alasan finansial. Nvidia telah menjanjikan subsidi senilai puluhan miliar dolar untuk kontrak komputasi awan pelanggannya. Jika pelanggan tidak memakai seluruh kapasitas yang mereka pesan, Nvidia dapat memanfaatkan kapasitas tak terpakai itu dengan menjualnya kepada pengguna Hugging Face.

Implikasi untuk Indonesia

Bagi Indonesia, perkembangan ini layak dipantau karena ekosistem AI lokal—termasuk startup di Jakarta, peneliti universitas, dan pengembang independen—banyak memakai model open-source yang diunduh lewat Hugging Face. Perubahan kepemilikan dapat mempengaruhi kebijakan akses, biaya layanan, dan prioritas dukungan teknis terhadap komunitas open-source.

Jika akuisisi selesai, Nvidia berpotensi menawarkan integrasi lebih erat antara perangkat kerasnya dan platform Hugging Face. Namun, belum ada kepastian dampak langsung bagi pengguna di Indonesia. Karena kesepakatan masih bisa berubah, para pengembang lokal sebaiknya terus memantau pengumuman resmi dari kedua perusahaan.

Yang Perlu Diperhatikan

Kesepakatan ini belum memiliki perjanjian yang ditandatangani. Laporan The Information dan Business Insider sama-sama menekankan bahwa negosiasi bisa saja gagal. Selain itu, Nvidia sebelumnya pernah ditolak Hugging Face untuk investasi US$500 juta pada akhir tahun lalu dengan valuasi US$7 miliar, karena Hugging Face tidak ingin investor dominan mempengaruhi keputusannya.

Sumber

- The Information - Business Insider - TechCrunch - Financial Times - CBS News - CNBC

  • #Huggingface
  • #NVIDIA
  • #opensource

Rekomendasi untuk Anda