TL;DR: Robot humanoid Tiangong Ultra mencatat waktu 8,86 detik pada lomba lari 100 meter di World Humanoid Robot Games Beijing, 25 Agustus 2025, lebih cepat 0,72 detik dari rekor dunia manusia Usain Bolt 9,58 detik.
Beijing, 25 Agustus 2025 — Sebuah robot humanoid bernama Tiangong Ultra mencetak sejarah baru dalam lomba lari 100 meter. Pada gelaran World Humanoid Robot Games kedua di Beijing, robot asal Tiongkok ini finis dengan waktu 8,86 detik, mengalahkan rekor dunia manusia tercepat Usain Bolt yang bertahan di angka 9,58 detik. Pencapaian itu bukan kejutan sesaat: dua jam sebelumnya, Tiangong Ultra berturut-turut mencatat 9,39 detik, 9,34 detik, dan 9,32 detik pada babak penyisihan.
Perkembangan dalam setahun terakhir terlihat drastis. Pada edisi pertama tahun lalu, robot yang sama hanya mampu mencatat 21,50 detik untuk jarak 100 meter. Kini selisihnya lebih dari 12 detik. Tidak hanya di nomor sprint, Tiangong Ultra juga mendominasi nomor 400 meter dengan waktu 38,15 detik, unggul hampir 5 detik dari rekor dunia manusia 43,03 detik. Bahkan tiga robot tercepat di nomor itu semuanya menembus rekor manusia.
Apa Kunci Teknis di Balik Kecepatan Itu?
Lompatan performa ini tidak lepas dari peningkatan perangkat keras dan algoritma. Guo Yijie, Kepala Divisi Humanoid di Beijing Humanoid Robot Innovation Center, menjelaskan bahwa torsi sendi dan kecepatan putaran Tiangong Ultra meningkat besar tahun ini.
"Tahun ini, torsi sendi dan kecepatan putaran Tiangong Ultra meningkat signifikan, catu daya memiliki kemampuan pengosongan daya besar untuk mendukung pertandingan dinamis tinggi. Dari sisi algoritma, berdasarkan reinforcement learning serta arsitektur dan metode pelatihan yang terus diiterasi, gaya berjalan Tiangong Ultra lebih stabil dan kemampuan kecepatan puncak lebih kuat."
Dengan kata lain, robot tidak hanya lebih kuat secara fisik, tetapi juga lebih pintar mengatur gerakannya. Han Gang, seorang pakar algoritma kontrol gerak , menyebut bahwa sebulan sebelum lomba kecepatan Tiangong Ultra masih 7 meter per detik. Tim kemudian melakukan pengurangan bobot, memperkuat sendi pinggul, dan mengoptimalkan algoritma kontrol gerak untuk memaksimalkan kemampuan perangkat keras.
Robot Otonom: “Berpikir” Sendiri di dalam Lintasan
Salah satu perubahan besar tahun ini adalah lebih banyak robot berlomba secara otonom penuh. Mereka tidak lagi dikendalikan remote, melainkan harus mendengar tembakan pistol start, mengenali lintasan, berbelok, dan menuju garis finis secara mandiri. Ini berarti robot harus memadukan “otak” yang memahami aturan dengan “otak kecil” yang mengontrol keseimbangan tubuh secara real-time.
Contoh paling menarik terjadi pada Tiangong Omni, robot mungil setinggi 1,35 meter yang memenangi nomor 400 meter kategori kecil dengan waktu 45,66 detik. Robot itu berlari dengan gaya “menutup wajah”—kedua lengan dekat ke kepala seolah malu. Han Gang menjelaskan:
"Awalnya kami merancang pola lari 100 meter normal seperti manusia, tetapi robot ini dihasilkan melalui iterasi data terus-menerus dalam simulasi. Saat belajar, ia mungkin merasa 'lari tutup wajah' lebih nyaman daripada lari mengayun lengan, jadi ini adalah cara yang ia iterasi sendiri."
Gaya itu bukan kesalahan desain. Menurut Han, mengayun lengan cepat bisa memberi beban berlebih pada bahu, memicu panas sendi, dan menguras energi. Dengan “menutup wajah”, robot bisa menjaga kaki tetap bertenaga dan tangan tetap rileks untuk menyelesaikan 400 meter.
Lebih dari Sekadar Lomba: Uji Kelayakan dan keandalan untuk Industri
Meski rekor-rekor itu menakjubkan, para pelaku industri melihat ajang ini sebagai uji keandalan di mata publik. Kang Yu, General Manager Capital Markets di Shoucheng Holdings, menyebut lomba ini bukan sekadar ajang unjuk gigi.
"Sebenarnya pesta olahraga ini bisa dipahami sebagai 'uji kelayakan' atau 'uji keandalan'. Berada di bawah penilaian publik, berbagai masalah pasti muncul. Saya pikir ini sangat bermakna, karena dalam operasi nyata, kita memang perlu melewati uji kelayakan seperti ini."
Ia juga menegaskan bahwa industri ini masih sangat muda. "Kalau melihat situasi sekarang, kami sebenarnya menilai industri ini baru saja dimulai," ujarnya. Menurutnya, hasil lomba tidak bisa begitu saja dipakai untuk menentukan peringkat pabrik robot, karena kemampuan produksi massal dan keandalan jangka panjang hanya bisa dibuktikan lewat pasar dan pelanggan.
Selain nomor atletik, kompetisi juga menguji robot dalam skenario nyata seperti perakitan industri, layanan rumah tangga, pemadaman kebakaran, hingga merapikan buku. Wang He, pendiri Galaxy General, menilai skenario-skenario ini membantu industri memahami batas kemampuan model saat ini dan memilih tim terbaik untuk menyelesaikan tugas yang lebih sulit.
Yang Perlu Diperhatikan untuk Indonesia
Bagi Indonesia, lonjakan performa Tiangong Ultra dan robot-robot lain menunjukkan bahwa humanoid tidak lagi hanya prototipe laboratorium. Kemampuan otonom, stabilitas berjalan, dan kecepatan adaptasi membuka peluang penerapan di sektor logistik, manufaktur, hingga layanan publik. Namun, seperti diingatkan Kang Yu, kesiapan produksi massal dan keandalan masih menjadi pekerjaan rumah besar—ini juga menjadi tantangan bagi ekosistem robotika dalam negeri yang masih bertumpu pada riset universitas dan beberapa startup tahap awal. Jika Indonesia ingin tidak hanya menjadi pasar, penguatan riset kontrol gerak, investasi pada komponen seperti motor dan baterai, serta kemitraan riset dengan pusat inovasi global perlu mulai dipetakan.
Sumber
- 新浪财经 / 红星新闻, “从21.50秒到8.86秒!1年时间,机器人‘加速进化’”



