Inggris menjadi mitra internasional pertama yang mendapat akses ke Avengers AI Labs milik Ukraina. Data medan perang dari ribuan kamera dan sensor inframerah akan dipakai untuk melatih model AI pertahanan.
Inggris resmi menjadi negara mitra internasional pertama yang diizinkan mengakses Avengers AI Labs milik Ukraina. Perjanjian ditandatangani di Kyiv oleh Perdana Menteri Andy Burnham dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebagai bagian dari Kemitraan 100 Tahun Inggris-Ukraina.
Melalui kesepakatan ini, peneliti dan perusahaan teknologi Inggris bisa mengakses data operasional yang dikumpulkan ribuan kamera siang hari dan sensor inframerah di medan perang Ukraina. Data itu menjadi bahan untuk melatih serta mengevaluasi model kecerdasan buatan pertahanan.
Apa yang Disepakati Inggris dan Ukraina?
Avengers AI Labs menyimpan data operasional yang direkam ribuan kamera siang hari dan sensor inframerah yang tersebar di seluruh medan perang Ukraina. Sensor-sensor itu merekam jutaan objek selama operasi, termasuk tank, sistem artileri, peralatan pertahanan udara, infanteri, serta ancaman udara seperti drone serang Shahed dan drone intai.
Informasi tersebut dikirim kembali ke Avengers AI Labs untuk melatih sistem mengenali dan mengelompokkan objek di medan perang. Kemitraan baru ini memberi peneliti dan inovator Inggris terpilih akses ke dataset operasional itu. Universitas, insinyur, dan perusahaan teknologi Inggris juga dilibatkan dalam kerja kolaboratif dengan spesialis Ukraina.
Perdana Menteri Andy Burnham menyebut Ukraina telah menjadi salah satu inovator teknologi pertahanan terdepan di dunia, “ditempa oleh keberanian, kecerdikan, dan pelajaran pahit perang.” Ia menambahkan, “Kemitraan terobosan ini akan memadukan pengalaman operasional Ukraina yang tak tertandingi dengan ekosistem AI kelas dunia Inggris, memberi kami peluang mengembangkan teknologi masa depan, mengubah kehidupan di Inggris dan menyelamatkan nyawa di medan perang Ukraina.”
Mengapa Data Medan Perang Begitu Berharga untuk AI?
Data yang dikumpulkan Avengers AI Labs berasal dari sensor-sensor yang merekam jutaan objek selama pertempuran. Jenisnya beragam, mulai dari tank, artileri, sistem pertahanan udara, infanteri, hingga drone serang Shahed dan drone pengintai. Data ini menjadi bahan latih sekaligus bahan evaluasi model AI untuk mengenali dan mengklasifikasi objek di medan perang.
Dalam pengujian masa damai, data semacam ini sulit direproduksi. Ukraina menghasilkan volume data operasional yang besar dari pengalaman perang nyata, terutama dalam perang drone, pengenalan target, perang elektronik, dan penerapan teknologi baru secara cepat. Karena itu, akses ke Avengers menjadi nilai strategis bagi Inggris.
Siapa Saja Perusahaan Rintisan Inggris yang Terlibat?
Tiga perusahaan rintisan Inggris sudah menjalankan proyek percontohan di bawah kemitraan ini. Sintela berbasis di Bristol, Mind Foundry dari Oxford, dan Skyral yang berkantor di London. Salah satu sistem mereka dijadwalkan segera dipasang di lokasi pertahanan Inggris.
Proyek itu menggabungkan data operasional Ukraina dengan teknologi Inggris untuk mengubah kabel serat optik yang tertanam di bawah tanah menjadi jaringan sensor besar berbasis AI. Pemerintah Inggris menyebut sistem ini awalnya dirancang untuk melindungi pangkalan militer dari pengunjuk rasa dan musuh yang berusaha mengumpulkan data intelijen. Jika terbukti efektif, pendekatan serupa dapat diterapkan ke bandara, penjara, jalur kereta api, dan infrastruktur energi.
Menteri AI Kanishka Narayan menyebut akses ke Avengers adalah bagian dari upaya membangun kemampuan berdaulat Inggris. “Dengan memberikan start-up, peneliti, dan insinyur Inggris akses ke wawasan dari platform AI Avengers, kami membawa kemitraan ini lebih jauh dan membantu Inggris mengembangkan teknologi pertahanan generasi berikutnya,” katanya.
Bagaimana Fokus pada Chip AI Hemat Daya?
Alur kerja kedua berfokus pada riset chip AI hemat daya generasi baru untuk drone, robotika, dan sistem otonom. Tujuannya adalah mengembangkan perangkat keras komputasi yang mampu mendukung sistem cerdas dengan konsumsi daya lebih rendah.
Dengan chip yang lebih hemat daya, platform tanpa awak dapat beroperasi lebih lama dan memproses informasi lebih cepat. Ini penting di lingkungan yang sulit mempertahankan pengaturan komputasi konvensional, seperti medan perang atau area tanpa pasokan listrik stabil.
Pergeseran Dukungan Inggris
Kesepakatan ini menandai pergeseran dukungan Inggris dari transfer peralatan saja menjadi pengembangan bersama dan kerja sama industri. Pengalaman perang Ukraina menghasilkan data operasional dalam jumlah besar yang sulit direproduksi lewat pengujian ketika tidak terjadi perang..
Menteri Pertahanan Wes Streeting menegaskan, “Ukraina mendorong inovasi pertahanan saat mereka dengan berani melawan invasi Rusia. Dari dukungan peralatan militer dan pelatihan hingga pengembangan teknologi mutakhir bersama, Inggris akan berdiri bahu-membahu dengan Ukraina selama yang diperlukan.” Ia menambahkan, “Dengan menggabungkan ilmuwan, insinyur, dan perusahaan teknologi terdepan Inggris dengan pengalaman serta data medan perang unik Ukraina, kami akan memperkuat pertahanan dan keamanan kedua negara.”
Kerja Sama Senjata Jarak Jauh Ikut Diperkuat
Pada saat yang sama, Inggris memberikan wewenang kepada perusahaan rudal Eropa MBDA untuk merilis informasi rahasia terkait komponen rudal Storm Shadow/SCALP buatan Prancis-Inggris. Langkah ini memungkinkan Prancis dan Ukraina memajukan rencana perakitan lokal rudal SCALP di Ukraina.
Keputusan itu sejalan dengan kerja sama AI yang diumumkan, memperlihatkan hubungan pertahanan Inggris-Ukraina yang semakin erat. Kedua negara tidak hanya berbagi data, tetapi juga membuka jalan transfer teknologi dan produksi bersama.
Yang Perlu Diperhatikan Indonesia
Bagi Indonesia, kerja sama ini menegaskan pentingnya data operasional nyata untuk membangun AI pertahanan. Tanpa data lapangan yang kaya, model AI sulit mengenali ancaman secara akurat. Indonesia yang sedang mengembangkan ekosistem startup dan industri pertahanan bisa belajar dari model kemitraan bilateral ini.
Namun, akses ke data perang juga menuntut tata kelola keamanan data yang ketat. Publikasi dataset sensitif bisa menimbulkan risiko baru jika jatuh ke pihak yang salah. Indonesia perlu menyiapkan regulasi dan standar keamanan sebelum membuka data pertahanan untuk pengembangan AI.
Sumber
- UK Defence Journal — “UK gains access to Ukraine battlefield AI data”https://ukdefencejournal.org.uk



