Teknologi

Pendapatan Nvidia Tembus US$96,2 Miliar, AWS Tambah 2 Juta GPU

Nvidia membukukan pendapatan US$96,2 miliar dan margin 75%. AWS menambah 2 juta GPU. Panduan kuartal berikutnya US$108 miliar.

Pendapatan Nvidia Tembus US$96,2 Miliar, AWS Tambah 2 Juta GPU

Sumber gambar: sina.com

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau oleh redaksi. Sumber: referensi asli.

Nvidia membukukan pendapatan US$96,2 miliar pada kuartal fiskal 2027 Q2, naik 106% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. AWS, unit komputasi awan Amazon, berkomitmen menambah 2 juta GPU Nvidia pada 2027–2028 sehingga total komitmennya menjadi 3 juta unit.

Kinerja Keuangan yang Menguat

NVIDIA kembali mencatat rekor pendapatan kuartal fiskal 2027 Q2, yang berakhir medio 2026. Perusahaan melaporkan pendapatan US$96,2 miliar, atau setara sekitar Rp 1.594 triliun dengan kurs Rp16.500 per dolar AS. Angka itu naik 106% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan 18% secara kuartalan.

Laba per saham non-GAAP—standar yang disesuaikan untuk mengukur kinerja operasional—mencapai US$2,22. Laba itu 6,4% di atas estimasi konsensus analis yang dihimpun Bloomberg. Margin kotor non-GAAP tetap tinggi di 75,0%, didukung kombinasi produk premium dan skala produksi.

Panduan untuk kuartal berikutnya juga melampaui ekspektasi. Nvidia memperkirakan pendapatan FY2027 Q3 sekitar US$108 miliar, dengan toleransi plus-minus 2%. Titik tengah panduan itu berarti turut menaikkan proyeksi pendapatan 3,3% di atas konsensus awal.

Sentimen Pasar Sempat Memburuk

Meski fundamental solid, reaksi awal pasar justru negatif. Saham Nvidia sempat turun lebih dari 3% pada perdagangan setelah penutupan (after-hours). Investor masih diliputi kekhawatiran soal keberlanjutan belanja modal untuk infrastruktur AI.

Laporan Goldman Sachs sebelumnya menyebut investasi AI lima raksasa teknologi AS pada 2025–2027 bisa mencapai US$1,4 triliun, tetapi imbal hasil rata-rata masih jauh dari harapan. Ada risiko aset infrastruktur menjadi usang sebelum memberikan laba optimal.

Pasar juga menyorot arus kas bebas perusahaan teknologi. Google mencatat arus kas bebas negatif untuk pertama kali dalam 22 tahun pada kuartal kedua 2026. Amazon dan Meta menghadapi tekanan serupa, sementara Microsoft ikut menggerus arus kas karena ekspansi AI.

Lembaga pemeringkat UBS menghitung belanja modal Amazon, Google, dan Microsoft sudah setara 102% dari pendapatan komputasi awan mereka. Artinya, seluruh uang dari bisnis cloud habis untuk belanja AI, bahkan harus memakai dana eksternal.

AWS Meredakan Keraguan

Momentum berbalik setelah AWS mengumumkan rencana menambah 2 juta GPU Nvidia ke infrastruktur globalnya pada 2027–2028. Pengumuman itu langsung mengangkat saham Nvidia dari zona negatif menjadi naik 4,5% setelah jam perdagangan.

Komitmen terbaru AWS menaikkan total GPU Nvidia yang akan dikerahkan menjadi 3 juta unit. Sebelumnya, pada ajang GTC 2026 Maret, AWS baru menjanjikan 1 juta GPU. Tambahan besar ini dianggap sinyal bahwa permintaan infrastruktur AI masih kuat, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.

Dengan komitmen AWS, narasi “AI capex sudah mencapai puncaknya” untuk sementara mereda. Pasar mulai mempertimbangkan bahwa siklus belanja modal AI bisa lebih panjang dari perhitungan awal.

Strategi “AI Factory” dan Pembiayaan Jangka Panjang

Nvidia juga menggeser narasi produk dari sekadar menjual GPU menjadi solusi “AI factory” atau pabrik AI. Produk generasi berikutnya, Vera Rubin, diklaim mulai memasuki produksi massal penuh.

Arsitektur Vera Rubin menggabungkan GPU, CPU Vera, interkoneksi NVLink, jaringan Spectrum, hingga rak pusat data dalam satu paket. Pendekatan ini membuat pelanggan semakin terikat pada ekosistem Nvidia, bukan sekadar membeli komponen terpisah.

Untuk mendukung ekspansi besar-besaran, Nvidia pada 10 Agustus 2026 menandatangani nota kesepahaman dengan enam institusi keuangan global: Apollo Global Management, BlackRock, Blackstone, Brookfield Asset Management, Goldman Sachs, dan KKR. Tujuannya membentuk platform pembiayaan khusus komputasi AI.

Platform itu menargetkan mobilisasi dana pihak ketiga lebih dari US$500 miliar. GPU, pusat data, dan kontrak jangka panjang bisa dikemas sebagai aset yang dibiayai atau disekuritisasi. Di satu sisi, skema ini memperluas basis pendanaan.

Namun, strategi ini juga membawa risiko makro. Jika infrastruktur AI berubah menjadi aset keuangan, nilainya akan terhubung ke suku bunga dan siklus kredit global. Investor diingatkan untuk tidak hanya melihat potensi kenaikan valuasi Nvidia, tetapi juga kompleksitas risiko sistemiknya.

Implikasi untuk Indonesia

Kabar Nvidia dan AWS relevan bagi pelaku teknologi di Indonesia. Meningkatnya pasokan GPU dan infrastruktur AI global berpotensi menurunkan biaya layanan AI berbasis cloud, yang banyak dipakai startup dan perusahaan digital lokal di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Namun, ketergantungan pada satu vendor—Nvidia—patut dicermati. Bagi regulator dan pelaku industri dalam negeri, diversifikasi pemasok akselerator AI tetap penting untuk menjaga kedaulatan digital. Langkah Nvidia membungkus GPU menjadi “AI factory” juga bisa mempersulit migrasi layanan di kemudian hari.

Yang perlu diperhatikan: investor dan pelaku industri sebaiknya memantau arus kas raksasa teknologi, bukan hanya angka pendapatan Nvidia. Jika belanja modal AI terus bergantung pada utang, koreksi makro global bisa berdampak cepat pada ekosistem cloud dan startup Indonesia.

Sumber

- Laporan Nvidia FY2027 Q2 dan panduan Q3 - Pengumuman AWS mengenai tambahan 2 juta GPU - Analisis Goldman Sachs, UBS, Reuters/LSEG - Laporan Hu Xiu APP via Sina.com

  • #NVIDIA
  • #aws
  • #gpu

Rekomendasi untuk Anda